Processing Tutorial
Processing: Bahasa dan Lingkungan Pemrograman Grafis Interaktif
Kelanjutan dari presentasi tentang Flickr/Photoblog di DKV ITB, mahasiswa mengupload karya-karyanya di flickr:
Ini adalah hasil kuliah Fotografi Aplikatif dari Pak Alfonso dibantu oleh asisten Pak Hendy.
03/04/2009 – membawakan materi tentang flickr/photobloging pada mata kuliah “Fotografi Aplikatif” dari Pak Alfonso di DKV ITB. Pada akhir semester mahasiswa akan memposting karya fotonya di Flickr.
Keterangan gambar: Pak Alfonso dan Pak Hendy sedang membawakan sesi kritik karya hasil UTS.
Dalam mata kuliah Seni Cetak Digital semester genap 2007/2008 di Studio Seni Grafis FSRD ITB saya kembali menggelar workshop Processing. Processing adalah bahasa dan lingkungan pemrograman open source untuk memprogram gambar, animasi, dan interaksi.
Materi workshop terdiri dari:
I. Bentuk
II. Gerak
III. Interaksi
Beberapa foto dari workshop hari pertama:
Workshop Tema Gnome / DKV ITB (2) from widianto nugroho on Vimeo.
Workshop Tema Gnome / DKV ITB (1) from widianto nugroho on Vimeo.
Photos appear courtesy of Comlabs.
Sabtu 28 April yang lalu saya memberikan presentasi mengenai Computational Media Design dan bahasa pemrograman Processing pada event “Workshop IT ComLabs – Graphic Design and Animation” yang diselenggarakan oleh Comlabs ITB. Dalam presentasi ini saya menguraikan mengenai pemanfaatan komputer sebagai media dan sebagai tools, apa bedanya dari dua macam pemanfaatan tersebut. Komputer sebagai media mengacu pada penggunaan komputer dengan mengeksploitasi keunikannya. Sementara sebagai tools didasari oleh kebutuhan di dalam proses produksi di mana orang kreatif sudah diberikan tools sedemikan yang memudahkan pekerjaannya. Proses produksi ini terjadi di dalam industri kreatif di mana telah terjadi pemisahan antara “creative” camp dan “techie” camp. Saya mencoba menelusuri dari sejarah mengapa terjadi pemisahan tersebut dan bagaimana “creative” camp seharusnya dapat mengakses media komputer ke layer yang lebih bawah dengan memanfaatkan pemrograman. Untuk hal ini telah tersedia bahasa pemrograman yang dibuat khusus untuk kalangan kreatif: seniman, desainer yaitu Processing.
Di ITB praktika berupa workshop Processing telah diberikan pada mata kuliah Seni Cetak Digital di Program Studi Seni Rupa FSRD ITB. Berikut ini dokumentasi foto-foto dari workshop tahun 2005.
Posting terkait:
Pada semester ini materi lebih dititikberatkan pada bagaimana mengolah ide dan gagasan dari tema yang telah ditentukan dan menuangkannya dengan teknik digital (bebas menggunakan software apa saja). Keluaran atau karya yang dihasilkan harus berupa karya cetak, mengacu pada konvensi seni grafis. Untuk tugas pertama tema yang harus dikerjakan adalah “Buro Destruct”. Tugas kedua (UTS) bertema “Mandala”.
Dosen:
Referensi Processing BETA dalam Bahasa Indonesia (in progress). Referensi untuk Processing ALPHA ada di sini.
Dari entri di Wikipedia, istilah “generative art” mengacu pada praktik seni dan desain yang dihasilkan (generated), dikomposisikan, atau dikonstruksi secara semi-acak melalui penggunaan algoritma komputer, atau proses matematis/mekanikal/pengacakan yang otonom.
Uraian yang cukup komprehensif dikemukakan oleh Philip Galanter dalam papernya “What is Generative Art? Complexity Theory as a Context for Art Theory”. Dalam paper tersebut Galanter mendefinisikan generative art sebagai praktik seni di mana seniman menggunakan suatu sistem seperti serangkaian aturan bahasa alamiah, suatu program komputer, sebuah mesin atau suatu proses prosedural yang diset untuk dapat dieksekusi dengan tingkat otonomi tertentu yang menghasilkan atau dihasilkan dalam sebuah karya seni.
Komunitas pengguna Processing pada dasarnya mempraktekan domain seni generatif sebagaimana diungkapkan dalam uraian di atas. Mengenai hal ini Casey Reas, salah satu inisiator Processing, sempat mengekspresikan ketidaksetujuannya dalam hal otonomi, yang diungkapkan dalam salah satu postingnya di bulletin board komunitas Processing. Reas menggarisbawahi bahwa seniman masih dan harus dapat memiliki kontrol terhadap karya seni yang dihasilkannya, bukan semata-mata pure otonom. Namun dalam entri tentang generative art di Wikipedia, Reas dimasukkan dalam salah satu seniman aliran generative art. Batasan otonomi dalam hal ini bukanlah merupakan sesuatu yang tegas, sehingga wilayah inilah yang kemudian menarik untuk dijelajahi.